logoblog

Cari

Pemberdayaan Masyarakat Melalui Program Kesan

Pemberdayaan Masyarakat Melalui Program Kesan

Pada tahun 2017 pertumbuhan ekonomi Provinsi NTB mencapai 7,1% dari 5,6 % pertumbuhan ekonomi nasional Pertumbuhan ekonomi yang tinggi sangat berpengaruh

Inovasi Mahasiswa/Pelajar

Aji Pranata
Oleh Aji Pranata
16 Mei, 2019 10:40:56
Inovasi Mahasiswa/Pelajar
Komentar: 0
Dibaca: 1054 Kali

Pada tahun 2017 pertumbuhan ekonomi Provinsi NTB mencapai 7,1% dari 5,6 % pertumbuhan ekonomi nasional Pertumbuhan ekonomi yang tinggi sangat berpengaruh kepada sistem dan tatanan kehidupan masyarakat NTB. Namun beberapa bulan belakangan ini, kondisi perekonomian NTB mengalami penurunan atau kontraksi cukup parah akibat bencana gempa berkekutan 6,4 SR dan 7,0 SR yang mengguncang NTB pada tahun 2018. Berdasarkan pernyataan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi NTB, Achris Sarwani mengatakan bahwa pasca gempa, pertumbuhan ekonomi NTB khususnya Pulau Lombok pasti akan mengalami kontraksi dan diperkirakan mengalami  pertumbuhan  minus  8%  sampai  10%.  Salah  satu  dusun  yang merasakan dampak gempa NTB terbesar adalah Dusun Kekait Daye. Berdasarkan hasil wawancara bersama Kepala Dusun Kekait Daye, Bapak Yusron mengungkapankan bahwa “85% pemukiman warga Kekait Daye mengalami kerusakan   parah,   10%  mengalami   kerusakan   sedang,   dan   5%   mengalami kerusakan ringan serta mengakibatkan lumpuhnya sektor pendapatan (perekonomian) masyarakat setempat”.

Dusun Kekait Daye merupakan salah satu dusun dari 7 dusun yang ada di Desa Kekait. Dusun ini memiliki Luas wilayah 2.000 m2  dengan total jumlah penduduk 1.542 jiwa. Secara geografis, terletak antara 0º24’ - 1º02’ lintang utara dan 121º - 121º32’ bujur timur dengan wilayah topografi terdiri atas lembah  dan  daerah  perbukitan  yang  potensial  untuk  pengembangan  sektor pertanian,   perkebunan,   dan   wisata   pedesaan.   

Potensi andalan utama Dusun Kekait Daye adalah     hasil perkebunan.

Hasil perkebunan yang paling terkenal (familiar) dari Dusun Kekait Daye ini adalah Air Nira (Aren). Dusun Kekait Daye sendiri sudah lama menjadi salah satu Dusun penghasil air nira terbesar di NTB, bahkan digelari sebagai kampung aren  (nira).  Perkebunan  menjadi  sektor andalan  mata  pencaharian  masyarakat dusun ini, terlihat dari 90% penduduk kekait daye berprofesi menjadi petani aren. Namun semua usaha yang selama ini dilakukan terputus karena alat penunjang produksi olahan air nira rusak akibat dampak gempa.

Selain itu juga beberapa kendala atau permasalahan yang dihadapi masyarakat Kekait Daye dalam mengembangkan potensi lokal daerah (air nira). Diantaranya pengolahan  air  nira  masih  sebatas  produk-produk  konvensional, seperti gula merah, gula semut, dan tuak manis. Olahan air nira tidak didukung dengan adanya diversifikasi produk olahan di kalangan masyarakat yang mampu mendorong nilai jual olahan air nira lebih ekonomis. Selain itu, kurangnya pemahaman   masyarakat   tentang   metode   pengemasan   produk   dan   teknik pemasaran hasil pengolahan air nira yang tepat, mengakibatkan sulitnya membangun kembali perekonomian masyarakat pasca gempa.

Inilah yang kemudian mendorong 5 Mahasiswa dari Universitas Mataram yaitu Adi Septiawan (S1 Manajemen), Rangga Alif Faresta (S1 Pendidikan Fisika), Zamzami (S1 Agroekoteknologi), Sindi Nopita Agustina (S1 Pendidikan Matematika) dan Alan Maulana Karisma (S1 Teknik Sipil) serta dosen Pembimbing, Ir. Hery Harianto,M.Si melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian Masyarakat yang berhasil mendapatkan pendanaan dari KEMRISTEKDIKTI tahun 2019. Dimana kelompok mahasiswa ini melakukan pemberdayaan masyarakat melalui Program yang mereka namakan  KESAN (Kekait Daye Sejuta Harapan). Pemberdayaan masyarakat melalui diversifikias olahan air nira. Produk yang mereka hasilkan di antaranya minuman isotonik ,permen aren, cokelat seduh aren dan kopi aren dengan berbagai rasa. Tidak sampai disitu, kelompok ini mengajarkan teknik pengemasan yang menarik pada produk yang telah mereka buat dan mengajarkan teknik pemasaran yang baik.

“Dalam melakukan pemberdayaan ini, kami mulai melakukan dengan observasi, untuk mencari tahu olahan apa yang bisa dikembangkan. Setelah itu langkah pertama adalah sosialisasi pengolahan air nira , pengemasan dan pemasaran yang baik” ujar Adi selaku ketua tim.

Namun sebelum itu, masyarakat diberikan semacam pretes- dan posttest untuk mengukur pemahaman mereka.

“Sebelum kegiatan sosialisasi dimulai, kami melakukan pretest terlebih dahulu. Ini penting agar apa yang kami lakukan tepat sasaran. Nah, setelah sosialisasi selesai kami kembali melakukan test untuk mencari tahu apakah terjadi perubahan mindset masyarakat terhadap olahan air nira yang kami ajarakan” ujar Sindi selaku sekretaris tim.

 

 

Baca Juga :


“Setelah semua produk jadi, maka langkah selanjutnya adalah pemasaran produk. Masyarakat dibantu bagaiamana memasarkan produk mereka dengan baik agar dilirik oleh konsumen, tentu melalui pengemasana yang menarik. Dan kami membuatkan kemasan khusus untuk dusun ini, agar memiliki ciri khas produk”  tambah Zamzami selaku penanggung jawab kemasan .

 

Kelompok ini juga mengajarkan, bagaimana memanfaatkan sosial media sebagai marketplace mereka. Rangga selaku anggota tim yang juga bertanggung jawab sebagai Content Creator pada tim ini mengajarkan cara pemasaran melalui media online.

“Alhamdulillah, setelah kami ajarkan bagaimana pemasaran yang baik, semua produk yang diproduksi sudah mulai dilirik oleh konsumen”

 

Program pemberdayaan ini akan berlangsung hingga bulan Juli mendatang. Dan tim ini masih terus memperbaiki kualitias produk yang dihasilkan agar dapat bersaing dengan produk-prosduk lainnya.

 



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan