logoblog

Cari

Tutup Iklan

Smart Cacao Dryer Untuk Membantu Kelompok Tani

Smart Cacao Dryer Untuk Membantu Kelompok Tani

Desa Lebah Sempage merupakan salah satu desa produsen kakao terbesar di Kecamatan Narmada yang dikelola oleh Kelompok Tani Tumbuh Subur. Kelompok

Inovasi Mahasiswa/Pelajar

Aji Pranata
Oleh Aji Pranata
13 Juni, 2018 11:45:18
Inovasi Mahasiswa/Pelajar
Komentar: 0
Dibaca: 2159 Kali

Desa Lebah Sempage merupakan salah satu desa produsen kakao terbesar di Kecamatan Narmada yang dikelola oleh Kelompok Tani Tumbuh Subur. Kelompok ini terdiri atas 25 kepala keluarga dengan luas tanah 25 hektar. Setiap bulan dan masa panen kelompok ini dapat menjual sekitar 6-7 bakul dengan berat 4 kg/bakul. Bagian kakao yang dapat dijual berupa kulit dan gelondongan dengan harga Rp20.000,00/5 biji, biji kakao basah seharga Rp85.000,00-Rp95.000,00 serta biji kakao kering seharga Rp110.000,00-Rp130.000,00. Namun kelompok ini memiliki permasalahan dalam produksi biji kakao sendiri khususnya saat proses pengeringan biji kakao. Kelompok ini hanya mengandalkan sinar matahari sebagai pengering alami tanpa adanya sentuhan teknologi. Untuk 4 kg biji kakao, kelompok tani ini, membutuhkan waktu 3 hingga 5 hari. Dan apabila musim hujan, maka proses pengeringan dilakukan dengan menggunakan asap dari kayu yang dibakar. Tentu hal ini akan mengurangi kualitas dari biji kakao tersebut.

Hal inilah yang mendorong kelima mahasiswa Universitas Mataram yang beranggotakan Zamzami (S1 Agroekoteknologi semester 4). Sindi Nopita Agustina (S1 Pendidikan Matematika semester 4), Alan Maulana Karisma (S1 Teknik Sipil semester 4), Adi Septiawan (S1 Manajemen semester 4) dan Rangga Alif Faresta (S1 Pendidikan Fisika semester 4 ). Mereka teragabung dalam  Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Bidang Penerapan Teknologi yang berhasil didanai oleh Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti.

Mahasiswa ini, menciptakan suatu teknologi tepat guna, yaitu suatu mesin penegring biji kakao yang mereka namakan Smart Cacao Dryer berbasis Hybrid. Dimana alat ini mampu merpersingkat proses penegringan biji kakao dalam hitungan jam. Jika proses pengeringan biji kakao yang sebelumnya membutuhkan waktu 3 sampai 5 hari jika menggunakan sinar matahari dengan kuantitas biji kakao 4 kg, maka dengan alat ini , hanya membutuhkan waktu 3 hingga 4 jam saja untuk 4 kg biji kakao dan tentu dapat meningkatkan penghasilan petani kakao di Desa Lembah Sempage

  Ini sebagai jawaban atas permasalahan yang di hadapi oleh kelompok tani di Desa Lembah Sempage. “Belum adanya sentuhan teknologi, dalam proses pengeringan biji kakao, membuat kami tergerak untuk membantu kelompok tani ini, dengan menciptakan teknologi tepat guna, yaitu mesin pengering biji kakao berbasis pada hybrid. Hybrid disini maksudnya adalah kami menggunakan dua sumber energi panas, yaitu kawat kasa yang mampu menyerap sinar matahari dan elemen pemanas (coil hetaer), Sehingga panas yang dihasilkan dapat merata dan dari segi ekonomi sangat eknonomis” jelas Zamzami selaku ketua Tim.

Program ini, berlangsung selama 4 bulan, dimulai pada bulan April dan akan berakhir pada bulan Juli. Tahap awal dari program ini adalah observasi yang mereka lakaukan selama bulan April. Tujuan dari adanya obeservasi ini adalah untuk mengetahui apakah alat yang mereka akan terapkan benar- benar dibutuhkan atau tidak. “Tahap awal dari kegiatan PKM kami adalah obeservasi. Ini sangat penting bagi kami untuk menentukan langkah kedepan dan mengetahui apakah alat ini benar- benar diperlukan atau tidak” tambah Adi selaku kordinator lapangan.

Ia juga menambahkan, jika tahap observasi sudah dilakukan maka langkah selanjutnya adalah perakitan dan uji coba alat. “Jika obeservasi sudah dilakukan maka, langkah selanjutnya adalah perakitan alat dan uji coba alat” jelas Adi.

Tahap perakitan alat dimulai dari persiapan alat dan bahan, menetukan dimensi alat dan menentukan mekanik atau cara kerja alat yang sudah direncanakan pada proposal PKM . “ Tahap perakitan alat kami lakukan selama 3 minggu pada bulan Mei, mulai dari persiapan alat dan bahan, menetukan dimensi alat dan menentukan mekanik atau cara kerja alat” jelas Rangga selaku kordinator alat.

 

Baca Juga :


Ia juga menegaskan jika terjadi kesalahan dalam proses perakitan, maka harus diulangi dari awal. Agar alat dapat bekerja secara maksimal. "Jika terdapat kesalahan dalam proses perakitan alat. maka harus diualangi dari awal. ini dilakuakn agar alat dapat bekerja secara maksimal" kata Rangga. 

Tahap selanjutnya adalah, uji coba alat yang dilakuakan sebanyak 3 kali. Untuk mengetahui apakah sudah sesuai dengan hasil yang diharapakan. “Jika proses perakitan selesai, maka tahap selanjutnya adalah uji coba alat,dimana kami lakukan sebanyak 3 kali. Uji coba alat bertujuan apakah alat sudah sesuai dengan hasil yang diharapakan, dimulai dari suhu optimal, tingkat kelembapan biji, kekuatan putaran alat , daya tampung alat, waktu pengeringan dsb” tambah Rangga.

Terakhir, mereka berharap, dengan adanya alat ini dapat membantu kelompok Tani Tumbuh Subur di Desa Lembah Sempage dalam proses pengeringan biji kakao sehingga mampu meningkatkan penghasilan mereka. Dan mereka juga berpesan, agar mahasiswa harus mampu menjawab permasalahan yang di hadapi oleh masyarakat dengan penerapan disiplin ilmu yang mereka miliki. “ Kami berharap dengan adanya alat ini dapat membantu kelompok tani Tumbuh subur dan dapat meningkatkan pengahasilan mereka. Dan juga kita sebagai mahasiswa harus mampu menjawab permasalahan yang dihadapi oleh masyrakat sekita kita “ tutup Zamzami. (AP)

 

 



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan